Postingan

Navigasi Saham AVIA Menuju 2026: Prospek Cerah di Tengah Ekspansi Kota Mandiri dan Pemulihan Properti

Gambar
  Brand Avian sudah tidak asing lagi didengar oleh kita, perusahaan yang awalnya hanya menjual cat, kini memiliki beberapa produk meskipun produk utamanya adalah cat. Jika kita berbicara tentang Avian, pasti kita teringat oleh seorang konglomerat dari Jawa Timur, yaitu Hermanto Tanoko. Beliau adalah sosok dibalik suksesnya perusahaan Avia, jabatannya di perusahaan adalah Komisaris Utama. Awal mulanya perusahaan Avian Brands dibangun tahun 1978 di Sidoarjo, Jawa Timur yang didirikan oleh Bapak dari Hermanto Tanoko yaitu Soetikno Tanoko dengan fokus usaha pada cat kayu dan cat besi. Sejak awal memang perusahaan sudah memiliki visi jangka panjang untuk menjadi pemain utama dalam industri cat nasional dengan mengintegrasikan fasilitas produksi bahan baku dan kemasan dalam satu lokasi. Kemudian perusahaan mencatatkan sahamnya di BEI pada akhir tahun 2021 dengan kode saham  AVIA  dengan harga penawaran Rp.930/lembar saham. Kegiatan usaha AVIA cukup banyak dan tidak hanya di ind...

Harga Itu Apa yang Kamu Bayar, Nilai Itu Apa yang Kamu Dapat: Sebuah Paradoks Psikologi

Gambar
  Artikel ini dibuat berdasarkan referensi dari tulisan Howard Marks di OakTree Capital Management. Penulis mendapatkan banyak insight sehingga muncul artikel ini. Oke, kita mulai… suatu aset investasi baik saham, obligasi, properti, dan sebagainya memiliki nilai “intrinsik” atau nilai wajar. Nilai wajar ini bersifat subjektif karena perhitungannya bisa berbeda beda antara satu orang dengan lainnya. Bahkan perhitungan nilai wajar yg kita hitung bisa berbeda dengan analisa dari AI ( Artificial Intelligent ) yg saat ini menjadi sumber utama pencarian sebagian banyak orang. Menurut penulis, nilai wajar itu berasal dari “ fundamental ” aset tersebut seperti laba perusahaan, proyeksi laba kedepannya, bagaimana manajemen mengelola perusahaan, aset yang dimiliki perusahaan tersebut, keunggulan produknya, persaingan pasar dll… akhirnya total dari faktor  fundamental  tersebut yang menjadi “earning power” sehingga menentukan berapa nilai wajar aset tersebut. Definisi “ earning pow...

ACES: Dari Rebranding hingga Strategi Kuasai Pasar Ritel

Gambar
  Sumber: ahi.id PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (AHI atau ACES) merupakan pemain yang cukup “senior” di sektor ritel kebutuhan rumah dan gaya hidup dengan pengalaman selama 70 tahun dari Kawan Lama Group. ACES tercatat di BEI sejak tahun 2007, maka sudah 18 tahun ACES melantai di bursa saham. Perusahaan ini tidak hanya mengelola satu merek, melainkan memiliki portofolio beragam seperti AZKO untuk perbaikan dan kebutuhan rumah, Toys Kingdom untuk mainan anak, hingga platform  e-commerce  Ruparupa. Strategi branding terbarunya adalah melakukan transformasi identitas dari  Ace Hardware  menjadi  AZKO  pada awal 2025, yang bertujuan menyegarkan citra perusahaan agar lebih modern dan relevan dengan aspirasi konsumen masa kini. Kekuatan operasional ACES terletak pada jaringan tokonya yang masif, per periode 9M25 sudah memiliki total 257 toko AZKO dan 76 toko Toys Kingdom yang tersebar di lebih dari 86 kota dan hadir di 31 provinsi dari Sabang hingga Merauka...

Investasi Saham, Cara Memulai Perjalanan Cuan Tanpa Perlu Jadi Jenius Matematika

Gambar
Semakin berkembangnya teknologi mempermudah kita dalam segala hal, salah satunya adalah cara kita berinvestasi. Dengan menggunakan ponsel, kita bisa berinvestasi dengan mudah dimana saja. Kita akan memulai artikel ini dengan membahas instrument investasi. Di Indonesia, instrument investasi ada bermacam-macam, ada Emas, Deposito, Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Saham, Reksadana Indeks, Obligasi Pemerintah (Surat Berharga Negara,Surat Utang Negara,Obligasi Republik Indonesia, dll). Dulu, pertama kali penulis masuk ke dunia investasi, investasi pertama yang penulis coba adalah reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Penulis memilih instrument tersebut karena risiko  loss  yang rendah walaupun imbal hasil juga tidak setinggi instrument saham. Kemudian setelah merasakan imbal hasil dari investasi yang sudah dilakukan, penulis ingin mencoba instrument lain yang memiliki imbal hasil lebih tinggi dari reksadana, yaitu instrument saham. Pengalam...

Mengintip Prospek Summarecon (SMRA) di Tahun 2026

Gambar
  Sumber: google.com Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode yang menarik bagi sektor properti Indonesia, didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah dan dinamika pasar yang positif. Namun, di tengah optimisme ini, bayang-bayang risiko makroekonomi seperti pelemahan daya beli dan potensi kenaikan kredit macet (NPL) juga membayangi, menuntut investor untuk cermat memilah prospek. Artikel ini akan membahas secara spesifik prospek PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Sumber: Pluang.com Pemerintah secara aktif menopang sektor properti melalui dua stimulus fiskal utama yang secara langsung menjaga daya beli masyarakat. Pertama, perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100% yang berlaku sepanjang tahun 2026. Kebijakan ini berlaku untuk pembelian rumah tapak atau apartemen baru dengan harga jual maksimal Rp 5 miliar, di mana pemerintah menanggung PPN hingga nilai Rp 2 miliar dari harga jual. Kedua, Bank Indonesia mempertahankan kebijakan makroprudensial ya...

PELAJARAN INVESTASI DARI PETER LYNCH PART 2

Gambar
Peter Lynch adalah investor  kondang  yang terkenal dengan pembagian kategori saham menjadi enam kategori, yaitu  Slow Growers  (Pertumbuhan Lambat),  Stalwarts  (Pertumbuhan Moderat/Kuat),  Cyclicals  (Saham siklus),  Asset Plays  (Aset Tersembunyi)  Turnarounds  (Berbalik arah/pemulihan), dan  Fast Growers  (Pertumbuhan Cepat/saham-saham  niche ). Dari enam kategori diatas, Peter Lynch menyukai perusahaan yang memiliki  niche.  Kita bahas satu persatu.. Slow Growers  (Pertumbuhan yang lambat)  adalah perusahaan yang pada awalnya berkembang cepat, namun mulai kehabisan tenaga, kehilangan momentum dan mengalami penurunan kinerjanya. Kebanyakan perusahaan kategori ini (walaupun tidak semuanya) akan mengalami perlambatan, namun keunggulannya adalah mereka rajin membayarkan dividen. Stalwarts  (Pertumbuhan Moderat/Kuat)  adalah perusahaan yang telah mapan (biasa disebut  Bluechip )...

PELAJARAN INVESTASI DARI PETER LYNCH PART 1

Gambar
  Peter Lynch adalah salah satu investor terkenal yang menjadi tokoh inspiratif penulis dalam melakukan investasi. Dia dikenal sebagai Manajer Investasi yang berkinerja terbaik dengan keuntungan rata-rata setiap tahun sebesar 29,2% selama tahun 1977–1990 saat ia bekerja di Fidelity’s Magelland Fund. Salah satu pendapat Peter Lynch yang paling disukai penulis adalah Investor ritel mempunyai keuntungan dan bahkan dapat menghasilkan imbal hasil lebih baik dibandingkan manajer investasi professional ( Big Fund ). Menurut penulis, pendapat ini sangat relate dengan kita sebagai investor ritel. Kenapa investor ritel dianggap lebih diuntungkan? Karena para professional (Manajer Investasi) dibatasi untuk berinvestasi hanya dalam beberapa tipe tertentu, biasanya tipe perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar ( Big Cap ). Padahal banyak peluang pasar yang menarik dan menghasilkan keuntungan besar dari perusahaan kecil ( Small Cap ) dan menengan ( MidCap ). Manajer Investasi tidak...