Harga Itu Apa yang Kamu Bayar, Nilai Itu Apa yang Kamu Dapat: Sebuah Paradoks Psikologi

 


Artikel ini dibuat berdasarkan referensi dari tulisan Howard Marks di OakTree Capital Management. Penulis mendapatkan banyak insight sehingga muncul artikel ini. Oke, kita mulai… suatu aset investasi baik saham, obligasi, properti, dan sebagainya memiliki nilai “intrinsik” atau nilai wajar. Nilai wajar ini bersifat subjektif karena perhitungannya bisa berbeda beda antara satu orang dengan lainnya. Bahkan perhitungan nilai wajar yg kita hitung bisa berbeda dengan analisa dari AI (Artificial Intelligent) yg saat ini menjadi sumber utama pencarian sebagian banyak orang.

Menurut penulis, nilai wajar itu berasal dari “fundamental” aset tersebut seperti laba perusahaan, proyeksi laba kedepannya, bagaimana manajemen mengelola perusahaan, aset yang dimiliki perusahaan tersebut, keunggulan produknya, persaingan pasar dll… akhirnya total dari faktor fundamental tersebut yang menjadi “earning power” sehingga menentukan berapa nilai wajar aset tersebut.

Definisi “earning power” disini adalah bagaimana perusahaan dapat mengelola aset yang dimiliki sehingga menghasilkan laba bagi perusahaan, bukan hanya membeli aset lalu menjual asetnya. Jika hanya membeli dan menjual asetnya, maka pendapatan yang didapat hanya sesaat dan tidak memiliki “earning power” yang cukup. Fundamental perusahaan akan terlihat ketika digabungkannya laba saat ini dan potensi laba kedepannya.

Cukup banyak investor yang membeli perusahaan diharga murah saat ini dengan hanya melihat laporan keuangan terakhir, mereka tidak melihat seperti apa potensi laba kedepannya. Menurut Howard Marks, investasi yang bijak adalah yang dapat melihat penggabungan laba saat ini dengan potensi laba yang akan datang. Jika investor sudah menemukan nilai wajarnya, maka bisa menentukan harga yang tepat untuk membeli aset tersebut agar dapat keuntungan dimasa depan.

Harga yang setiap hari bergerak di pasar saham ditentukan oleh seberapa banyak investor membeli dan menjual saham tersebut. Ada yang optimis, ada yang pesimis. Ada yang menganggap perusahaan ini berpotensi cerah, ada yang menganggap perusahaan berisiko tinggi. Maka harga yang bergerak setiap hari terbentuk dari psikologi. Saat mayoritas optimis, harga naik melebihi nilai wajar. Saat mayoritas pesimis, harga turun dibawah nilai wajar. Inilah yang menciptakan peluang mendapatkan harga murah atau kemahalan. Atau biasa disebut market irrational. Dalam investasi, harga aset tidak bisa berdiri sendiri, dia harus dihubungkan dengan nilai. Hubungan antara harga dan nilai itulah yang disebut “valuasi”. Meminjam kata Benjamin Graham: dalam jangka pendek pasar adalah mesin pemungut suara (popularitas), tapi dalam jangka panjang pasar adalah mesin timbangan (mengukur nilai asli).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan ini laba bersihnya naik 524% YoY. Seperti apa bisnisnya?

Bongkar Rahasia Harga Saham: Pahami Valuasi Dasar Ini

Mengintip Prospek Summarecon (SMRA) di Tahun 2026