Investasi Saham, Cara Memulai Perjalanan Cuan Tanpa Perlu Jadi Jenius Matematika


Semakin berkembangnya teknologi mempermudah kita dalam segala hal, salah satunya adalah cara kita berinvestasi. Dengan menggunakan ponsel, kita bisa berinvestasi dengan mudah dimana saja. Kita akan memulai artikel ini dengan membahas instrument investasi. Di Indonesia, instrument investasi ada bermacam-macam, ada Emas, Deposito, Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Saham, Reksadana Indeks, Obligasi Pemerintah (Surat Berharga Negara,Surat Utang Negara,Obligasi Republik Indonesia, dll). Dulu, pertama kali penulis masuk ke dunia investasi, investasi pertama yang penulis coba adalah reksadana pasar uang dan reksadana pendapatan tetap. Penulis memilih instrument tersebut karena risiko loss yang rendah walaupun imbal hasil juga tidak setinggi instrument saham. Kemudian setelah merasakan imbal hasil dari investasi yang sudah dilakukan, penulis ingin mencoba instrument lain yang memiliki imbal hasil lebih tinggi dari reksadana, yaitu instrument saham.

Pengalaman kesalahan penulis saat awal-awal berinvestasi saham yaitu melewati pemahaman dasar dari makna investasi saham. Investasi saham pada dasarnya adalah kamu “menitipkan” modal ke sebuah perusahaan agar mereka bisa berkembang, dan sebagai imbalannya, kamu jadi pemilik (pemegang saham) yang berhak atas keuntungan perusahaan tersebut. Pembagian keuntungan perusahaan tersebut yang biasa disebut dengan dividen. Sebelum kamu terjun ke saham, pastikan kamu sudah memiliki dana darurat terlebih dahulu dan uang yang akan kamu investasikan di saham adalah uang yang tidak dipakai setidaknya selama 2 tahun kedepan. Kenapa begitu? Karena harga saham dalam jangka waktu pendek akan berfluktuasi naik turun, kita akan sulit jika mencoba untuk menebaknya, untuk meminimalisir risiko dari investasi saham, kamu harus sabar menahan saham yang kamu pegang dalam jangka panjang. Namun, pastikan saham yang kamu beli sudah dilakukan analisis terlebih dahulu. Dasar-dasar analisis saham akan penulis jelaskan di lain kesempatan ya..

Selanjutnya, buat akun di sekuritas yang akan kamu pilih. Kalo penulis pribadi menggunakan sekuritas dari bank yang penulis punya, contohnya jika punya rekening di bank mandiri maka buka akun di Growin Sekuritas, jika punya rekening di bank BNI maka buka akun BIONS sekuritas, dan sebagainya. Menurut penulis, jika sekuritasnya sesuai dengan bank yang kita gunakan, pendaftaran akun lebih mudah dan tidak akan dikenakan biaya antar bank jika ingin deposit/withdraw dana.

Setelah selesai membuat akun, mulai untuk mencari saham yang akan kamu pilih untuk diinvestasikan. Saham pertama untuk investasi biasanya adalah saham yang produknya sudah kamu kenal lama, sehingga kamu mengerti keunggulan, kompetitor dan kemungkinan risiko bangkrut. Saham model seperti ini biasanya adalah saham Bluechip, contohnya adalah ICBP, INDF, CMRY, ASII, dll (cek di google ya perusahaan apa dari kode saham tadi).

Awali investasi dengan modal kecil, agar kamu terbiasa dengan cara jual dan beli saham serta terbiasa mengatur emosi saat harga saham bergerak volatile. Jika sudah terbiasa, tambahkan sedikit demi sedikit modal untuk diinvestasikan di saham. Di Indonesia, minimal kita membeli saham sebesar 1 lot (1 lot = 100 lembar saham). Sedangkan harga yang tertera adalah harga per lembar saham. Contohnya adalah harga saham ICBP sebesar 8.275,- , maka untuk membeli saham ICBP minimal yang harus kamu siapkan adalah Rp.827.500,- untuk 1 lot.

Terakhir adalah prinsip dasar yang harus dipegang oleh investor saham, yaitu SABAR ADALAH KOENTJI. Jika kita sudah memahami perusahaan yang akan kita beli sahamnya, kita harus sabar menunggu hingga harga sahamnya mencapai nilai sahamnya (nilai intrinsik). Dalam perjalanan menuju nilai intrinsik nya, harga saham akan mengalami naik turun seperti roller coaster dan kita harus sabar untuk tidak segera menjualnya. Btw, harga saham dan nilai saham (nilai intrinsik) itu beda ya. Harga saham adalah harga yang terbentuk dari hasil jual-beli di pasar, sedangkan nilai saham adalah harga wajar atau “harga asli” dari sebuah perusahaan berdasarkan kinerja bisnisnya. Jika ada yang ingin didiskusikan, silahkan tinggalkan komentar di kolom komentar ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan ini laba bersihnya naik 524% YoY. Seperti apa bisnisnya?

Bongkar Rahasia Harga Saham: Pahami Valuasi Dasar Ini

Mengintip Prospek Summarecon (SMRA) di Tahun 2026