UPDATE KINERJA EMITEN ADRO

Sumber: Annual Report Company

Saya akan coba menuliskan update kinerja beberapa emiten yang menjadi watchlist ketika laporan keuangan terbaru telah keluar. Tulisan pertama mengenai ADRO sudah di publish tanggal 26 Oktober 2025, sekitar 5 bulan yang lalu saat harga ADRO berada di kisaran harga Rp.1.760/lembar saham (baca disini ). Sekarang kita coba lihat kinerja perusahaan berdasarkan Laporan Keuangan Tahun 2025 dan Annual Report nya. Btw, harga saat tulisan ini dipublish berada dikisaran Rp, 2.620/lembar saham. Lanjuutt… Alamtri adalah induk perusahaan yang menaungi pilar bisnis Alamtri Eco dan Alamtri Geo (sudah dijelaskan pada tulisan sebelumnya). Alamtri Geo pada bisnis batu bara metalurgi nya per akhir tahun 2025 memiliki total cadangan dan total sumber daya sebesar 178,1 Juta Ton dan 996,9 Juta Ton yang berada di Kalimatan Tengah dan Kalimantan Timur.

Sumber: Annual Report Company

Total produksi batu bara metalurgi sebesar 7,41 Juta Ton (naik 12% dari tahun sebelumnya) dan volume penjualan sebear 6,28 Juta Ton (naik 12% dari tahun lalu). Volume tersebut melampau target perusahaan sebesar 6,1 Juta Ton untuk tahun 2025. Pengupasan Lapisan Penutup yang dioperasikan oleh kontraktor milik perusahaan, yaitu PT. Saptaindra Sejati (SIS) berhasil menaikan kinerja nya 12% dari tahun sebelumnya. Terlihat bahwa perusahaan memiliki kinerja yang solid di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik dunia yang sedang kacau.

Lalu kemana saja ADRO menjual baru bara metalurgi nya?

Sumber: Annual Report Company

Berdasarkan data yang diambil dari Annual Report Company, penjualan batu bara terbesar masih didalam negeri dengan persentase 31%, dilanjutkan dengan Jepang, India, China, Korea Selatan dan Malaysia. Selanjutnya kita masuk ke kinerja perusahaan berdasarkan laporan keuangan akhir tahun 2025.

Sumber: Olahan Penulis

Jika dilihat dari Pendapatan Usaha, secara YoY ADRO masih mengalami penurunan -10% sebesar USD.1,9 Milliar, Laba Bruto YoY turun -27% sebesar USD 636 Juta dan Laba Bersih turun -68% sebesar USD 447,7 Juta. Namun, yang membuat penulis tertarik dengan perusahaan ini adalah perbaikan kinerja nya, bisa kita lihat dari QoQ yang naik pada Top Line dan Bottom Line. Penulis membaca ini adalah sebuah titik balik perusahaan yang turun cukup dalam karena adanya Spin Off usahanya yang bergerak di bidang batu bara termal.

Lalu bagaimana prospek perusahaan tahun 2026?

Perusahaan masih gencar mengembangkan bisnisnya di sektor pengolahan mineral dan melanjutkan pembangunan smelter aluminium di Kalimantan Utara dengan kapasitas produksi hingga 500.000 ton per tahun. Mengingat aluminium ini banyak digunakan dalam kerangka kendaraan listrik, penyimpanan energy dan pembangkit listrik energy terbarukan. Permintaan aluminium global diperkirakan mengalami peningkatan kebutuhan sekitar 75,8 juta ton. Mulai Kuartal 4 tahun 2025 smelter aluminium sudah mulai proses pengujian dan komisioning sebagian smelternya dan tetap berfokus pada peningkatan operasional pot secara strategis untuk mencapai kapasitas produksi penuh pada akhir 2026.

Prospek batu bara metalurgi akan datang dari India yang memiliki target kapasitas produksi baja mentah mencapai 300 juta ton pada tahun 2030, dan permintaan dari domestik yang akan naik didukung oleh pembangunan infrastruktur oleh pemerintah, pembangunan 3 juta unit perumahan, pengembangan kawasan industri baru, peningkatan penjualan kendaraan, pembangunan fasilitas manufaktur semikonduktor dan pabrik baterai.

Penulis masih yakin bahwa kinerja saat ini on track menuju target harga yang ditulis pada artikel sebelumnya.

Disclaimer: Bukan ajakan jual beli, Please Do Your Own Research.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan ini laba bersihnya naik 524% YoY. Seperti apa bisnisnya?

Bongkar Rahasia Harga Saham: Pahami Valuasi Dasar Ini

Mengintip Prospek Summarecon (SMRA) di Tahun 2026