Perusahaan Batubara Raksasa Ini Punya Cerita Baru yang Bikin Sahamnya Berpotensi Melejit!

 ADRO
PT. ALAMTRI RESOURCES INDONESIA, Tbk

 


Saya ingin mengajak Anda bedah tuntas salah satu perusahaan yang punya cerita (story) keren dan menurut saya, sangat berpotensi membuat harga sahamnya naik! Perusahaan ini adalah PT. Alamtri Resources Indonesia Tbk. Mungkin Anda lebih mengenalnya dengan nama lamanya, PT. Adaro Energy Indonesia Tbk, yang sejak awal terkenal sebagai pemilik salah satu cadangan batubara terbesar di Indonesia, totalnya mencapai 975,6 Juta Ton. Namun, pada tahun 2024, mereka membuat keputusan besar: Ganti nama! Pergantian nama ini bukan sekadar formalitas, tapi sinyal besar bahwa mereka siap berubah total, bergeser dari fokus utama di batubara (energi fosil) menjadi Energi Baru Terbarukan (EBT). Jelas terlihat bahwa manajemen serius menjalankan strategi mengurangi risiko agar tidak lagi 100% bergantung pada bisnis batubara termal yang punya tantangan besar di masa depan. Langkah transisi inilah yang membuat perusahaan ini sangat menarik untuk kita ulas lebih dalam.

Awalnya Adaro memiliki 3 bisnis utama yaitu Adaro Energy yang fokus ke batubara biasa (termal) dan pembangkit listrik; Adaro Minerals yang fokus ke batubara khusus (metalurgi) dan mineral lain; serta Adaro Green yang fokus ke energi bersih seperti tenaga surya (solar PV), angin (PLTB), baterai, dan air (PLTA). Nah, pada tahun 2024, manajemen melakukan langkah yang mengejutkan: mereka melepas atau spin off bisnis utamanya yang selama ini jadi penyumbang pendapatan terbesar, yaitu PT. Adaro Andalan Indonesia (AAI), yang bergerak di batubara termal. Mereka hanya menyisakan sedikit kepemilikan (sekitar 15,37%) di bisnis tersebut. Hasilnya, kini perusahaan jauh lebih ramping dan punya dua pilar utama yang baru: Alamtri GEO yang fokus ke sektor pertambangan non-batubara termal (tepatnya batubara untuk industri baja/metalurgi), dan Alamtri ECO yang fokus penuh pada Energi Baru Terbarukan (EBT).

Nah, sekarang kita zoom in ke pilar bisnis pertama mereka, yaitu Alamtri GEO. Pilar ini dijalankan lewat anak usaha bernama AMI (Alamtri Minerals Indonesia). Fokus utamanya bukan lagi batubara biasa, tapi batubara kokas atau metalurgi, yaitu batubara spesial yang dipakai untuk membuat baja. Cadangan batubara mereka di sana sangat besar, mencapai 177,3 Juta Ton! Penjualan batubara ini juga sudah mendunia, dengan pasar terbesar ada di dalam negeri (32%), disusul Jepang (29%), Tiongkok, Korea Selatan, dan India. 

Tapi yang paling menarik adalah langkah upgrade mereka! Melalui PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), mereka mulai masuk ke bisnis peleburan (smelter) Aluminium. Smelter ini direncanakan mulai beroperasi akhir tahun 2025 dengan kapasitas 500.000 ton, yang bisa memenuhi setengah kebutuhan impor Aluminium Indonesia yang rata-rata 1 juta ton! Ini adalah story hilirisasi yang sangat menjanjikan dan wajib dicatat oleh investor.

Selain itu, Alamtri GEO juga didukung oleh PT SAPTA INDRA SEJATI (SIS), yang menyediakan jasa penambangan, infrastruktur, dan logistik. SIS ini melayani penambangan batubara lama (AAI) dan yang baru (AMI). Yang keren dari SIS adalah penggunaan teknologi canggih seperti AI (Kecerdasan Buatan) dan IoT yang memungkinkan mereka mengendalikan 35 excavator dan 400 dump truck dari jarak lebih dari 5 kilometer. Ini membuat biaya operasional perusahaan jadi jauh lebih efisien!

Terakhir, mari kita lihat kondisi dompet perusahaan atau kinerja keuangannya, yang pada laporan Semester I tahun 2025 (1H25) menunjukkan adanya penurunan: pendapatan perusahaan turun 19% (menjadi USD 857 Juta) dan laba bersih anjlok tajam hingga -78% (menjadi USD 179 Juta). Jangan panik! Penurunan ini wajar dan sudah diperkirakan karena ini adalah efek dari keputusan besar perusahaan untuk melepas bisnis batubara termal utama mereka; kabar baiknya, jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (QoQ), pendapatan mereka justru mampu naik 25% dan laba bersih juga mulai membaik dengan kenaikan 28%, yang mengindikasikan bahwa pilar-pilar bisnis baru mereka mulai aktif dan mampu menopang kinerja perusahaan.

Melihat angka pendapatan dan laba bersih yang turun tadi, wajar saja jika harga sahamnya ikut tertekan. Sampai dengan 24 Oktober 2025 (Year-to-Date), harga saham perusahaan ini sudah terjun bebas hingga -30% dan bahkan sudah turun lebih dari 50% dari titik tertingginya (ATH) di tahun 2022. Saat ini di harga Rp1.760, secara valuasi perusahaan terlihat cukup menarik dengan proyeksi Return on Equity (ROE) akhir tahun sebesar 7,7% dan rasio Price to Book Value (PBV) hanya 0,7 kali—artinya harga sahamnya lebih murah dari nilai bukunya. Secara fundamental, perusahaan ini juga sehat dengan Gross Profit Margin (GPM) yang masih tinggi di 33% dan risiko utang yang sangat kecil (Debt to Equity Ratio atau DER hanya 0,1 kali). Dengan nilai buku per saham (BVPS) saat ini di Rp2.373, penulis memperkirakan target harga perusahaan bisa mencapai Rp3.325 dengan Margin of Safety (potensi keuntungan) hingga 89%, dengan catatan jika perusahaan ini bisa terus bertumbuh dan mempertahankan kinerja ROE di atas 7% dalam 5 tahun ke depan.

Disclaimer: Bukan ajakan jual beli, Please Do Your Own Research.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan ini laba bersihnya naik 524% YoY. Seperti apa bisnisnya?

Bongkar Rahasia Harga Saham: Pahami Valuasi Dasar Ini

Mengintip Prospek Summarecon (SMRA) di Tahun 2026